Sabtu, 29 Oktober 2011

PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS

A. Judul Penelitian
Penerapan model pembelajaran konstruktivisme untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai sistem pernafasan bagi siswa kelas V SD Muhammadiyah Banjaran.

B. Bidang Kajian
Strategi pembelajaan

C. Pendahuluan
Menurut pandangan konstruktivisme keberhasilan belajar bukan hanya bergantung lingkungan atau kondisi belajar melainkan juga pada pengetahuan awal siswa yang secara aktif dibangun siswa sendiri melalui pengalaman nyata, hal ini sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Piaget yaitu belajar merupakan proses adaptasi lingkungan yang melibatkan bergabungnya stimulus ke dalam struktur kognitif. Bila stimulus baru tersebut masuk ke dalam struktur kognitif diasimilasikan, maka terjadi proses adaptasi yang berkesinambungan dan struktur kognitif menjadi bertambah.
Pembelajaran IPA yang dilakukan di kelas V SD Muhammadiyah Banjaran, mengenai sistem pernafasan manusia, guru diawal pembelajaran langsung menulis materi di papan tulis, kemudian siswa disuruh mancatat materi, kemudian guru langsung menjelaskan, ketika guru menjelaskan banyak siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru, mereka bergurau, ngobrol dengan teman-temannya. Melihat kondisi kelas seperti itu guru langsung memberikan pertanyaan kepada siswa seputar materi, namun mereka terdiam dan tidak paham. Saat guru melakukan evaluasi sebagian siswa tidak dapat menjawab soal evaluasi sehingga hasil evaluasi tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, yaitu 50 % siswa nilainya dibawah KKM.
Dari analisis masalah, ditemukan beberapa penyebab antara lain : guru kurang membangkitkan motivasi, siswa tidak memperhatikan penjelasan guru, prnyampaian materi kurang menarik dan dalam pembelajaran juga guru tidak melakukan percobaan mengenai sistem pernafasan. Akibatnya siswa tidak paham tentang sistem pernafasan dan tidak berani mengungkapkan pendapatnya. Kadang dalam pembelajaran IPA guru mengharapkan siswa diam dengan sikap duduk tegak dan menghadap ke depan, sementara guru dengan fasih menceramahkan materi. Pembelajaran ini bertentangan dengan hakikat anak dan pendidikan IPA. Pembelajaran IPA yang efektif dicirikan antara lain oleh tingginya kemampuan pembelajaran dalam menyajikan hakekat pendidikan IPA di SD yakni sebagai proses, produk dan sikap.
Untuk mengatasi permasalahan, peneliti akan menerapkan model pembelajaran konstruktivisme dalam pembelajaran IPA. Karena pembelajaran ini lebih memfokuskan pada kesuksesan siswa dalam mengorganisasikan pengalaman, atau siswa lebih berpengalaman untuk mengkonstruksikan sendiri pengetahuan mereka melalui asimilasi dan akomodasi.
Berdasarkan latar belakang masalah, maka dapat diidentifikasikan masalah sebagai berikut:
1. Proses pembelajaran tidak dapat mengoptimalkan prestasi belajar, dilihat dari rendahnya ketercapaian kompetensi dasar masih di bawah KKM pada pelajaran IPA Kelas V SD Muhammadiyah Banjaran.
2. Suasana pembelajaran IPA di kelas V SD Muhammadiyah Banjaran selama ini kurang menarik.
Dalam penelitian ini, peneliti membatasi permasalahan pada penerapan model pembelajaran konstruktivisme untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai sistem pernafasan bagi siswa kelas V SD Muhammadiyah Banjaran




D. Perumusan dan Pemecahan Masalah
1. Perumusan Masalah
a. Bagaimana gambaran penerapan model pembelajaran konstruktivisme untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai sistem pernafasan bagi siswa kelas V SD Muhammadiyah Banjaran?
b. Bagaimana peningkatan kemampuan siswa dalam memahami sistem pernafasan bagi siswa kelas V SD Muhammadiyah Banjaran?
2. Pemecahan Masalah
a. Bagaimana gambaran penerapan model pembelajaran konstruktivisme untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai sistem pernafasan bagi siswa kelas V SD Muhammadiyah Banjaran?
b. Bagaimana peningkatan kemampuan siswa dalam memahami sistem pernafasan di kelas V SD Muhammadiyah Banjaran?

E. Tujuan Penelitian
1. Mengetahui gambaran penerapan model pembelajaran konstruktivisme untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai sistem pernafasan di kelas V SD Muhammadiyah Banjaran.
2. Mengetahui bagaimana peningkatan kemampuan dalam pemahaman siswa mengenai sistem di kelas V SD Muhammadiyah Banjaran.

F. Manfaat Hasil Penelitian
1. Bagi siswa, untuk meningkatkan pemahaman mengenai sistem pernafasan.
2. Bagi guru, untuk mengembangkan potensi guru dalam pembelajaran IPA dengan menerapkan model pembelajaran konstruktivisme.
3. Bagi sekolah, untuk meningkatkan kualitas pendidikan dasar.





G. Kajian Pustaka
1. Kajian Teori
a. Pengertian Belajar
Moh. Surya (1997) : “Belajar dapat diartikan sebagai proses yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungan. Dengan demikian belajar merupakan proses perubahan tingkah laku secara keseluruhan yang didapat dari pengalaman dari lingkungan formal maupun informal, yang berlangsung sepanjang hayat, mulai dari masa bayi hingga akhir hayat.
b. Hakikat Pembelajaran IPA di SD
Sains mengandung makna pengajuan pertanyaan, pencarian jawaban, pemahaman jawaban, penyempurnaan jawaban, baik tentang gejala maupun karakteristik alam sekitar melalui cara-cara sistematis (Depdiknas, 2002:1).
Belajar sains tidak sekadar belajar informasi sains tentang fakta, konsep, prinsip, hukum, dalam wujud “pengetahuan deklaratif”, akan tetapi juga belajar tentang cara memperoleh informasi sains, cara sains dan teknologi bekerja dalam bentuk pengetahuan prosedural, termasuk kebiasaan bekerja ilmiah dengan metode ilmiah dan sikap ilmiah.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pada hakikatnya sains terdiri dari tiga komponen, yaitu : produk, proses, dan sikap ilmiah. Jadi tidak hanya terdiri atas kumpulan pengetahuan atau fakta yang dihafal, namun juga merupakan kegiatan atau proses aktif menggunakan pikiran dalam mempelajari rahasia gejala alam.
c. Model Pembelajaran Konstruktivisme
1) Pengertian model pembelajaran konstruktivisme
Model konstruktivisme adalah salah satu pandangan tentang proses pembelajaran yang menyatakan bahwa dalam proses belajar diawali dengan terjadinya konflik kognitif (Karli, 2004 : 2). Konflik kognitif ini hanya dapat diatasi melalui pengetahuan akan dibangun sendiri oleh anak melalui pengalamannya dari hasil interaksi dengan lingkungannya, yang memerlukan perubahan/modifikasi struktur kognitif untuk mencapai keseimbangan dan akan terjadi secara berkelanjutan, selama siswa menerima pengetahuan baru.
Perolehan pengetahuan siswa diawali dengan menyerap hal baru sebagai hasil interaksi dengan lingkungan, kemudian hal baru tersebut dibandingkan dengan konsepsi awal yang telah dimiliki sebelumnya.
2) Konstruktivisme dalam pembelajaran
Kegiatan belajar adalah kegiatan yang aktif, dimana siswa membangun sendiri pengetahuannya. Siswa mencari arti sendiri dari yang mereka pelajari, ini merupakan proses menyesuaikan konsep-konsep dan ide-ide baru dengan kerangka berfikir yang telah ada dalam pikiran mereka. Dalam hal ini siswa membentuk pengetahuan mereka sendiri dan guru mediator dalam proses pembentukan itu.
Proses perolehan pengetahuan akan terjadi apabila guru dapat menciptakan kondisi pembelajaran yang ideal yang dimaksud disini adalah suatu proses belajar mengajar yang sesuai dengan karakteristik IPA dan memperhatikan perspektif siswa sekolah dasar. Pembelajaran yang dimaksud diatas adalah pembelajaran yang mengutamakan keaktifan siswa, menerangkan pada kemampuan minds-on dan hands-on serta terjadi interaksi dan mengakui adanya konsepsi awal yang dimiliki siswa melalui pengalaman sebelumnya.
d. Pembelajaran tentang sistem pernafasan
Oksigen (zat asam) masuk melalui hidung. Di hidung oksigen disaring kotorannya dan diatur kelembabannya. Dari hidung oksigen menuju ke trakea (pangkal tenggorokan)-bronkus (batang tenggorokan) - bronktolus (cabang batang tenggorokan) dan akhirnya perjalanan oksigen sampai di alveolus (gelembung paru-paru). Di alveolus terjadi pertukaran oksigen dengan karbondioksida (zat asam arang)
Pada saat menarik napas otot diafragma mengerut. Akibatnya, diafragma mendatar, rongga dada membesar, dan udara masuk paru-paru. Proses masuknya udara pernapasan ke dalam paru-paru disebut inspirasi.
Pada saat mengembuskan napas, otot diafragma dan otot antartulang rusuk mengendur. Akibatnya, rongga dada mengecil dan paru-paru mengempis sehingga CO2 dalam paru-paru terdorong keluar. Proses tersebut merupakan proses ekspirasi.
e. Pemahaman
Menurut Suharsimi Arikunto (1995: 115) pemahaman (comprehension) siswa diminta untuk membuktikan bahwa ia memahami hubungan yang sederhana diantara fakta-fakta atau konsep.
Pemahaman berasal dari kata paham yang memiliki arti: (1) pengertian; pengetahuan yang banyak, (2) pendapat, pikiran, (3) aliran; pandangan, (4) mengerti benar (akan); tahu benar (akan); (5) pandai dan mengerti benar. Apabila mendapat imbuhan me- i menjadi memahami, berarti : (1) mengerti benar (akan); mengetahui benar, (2) memaklumi. Dan jika mendapat imbuhan pe- an menjadi pemahaman, artinya (1) proses, (2) perbuatan, (3) cara memahami atau memahamkan (mempelajari baik-baik supaya paham) (Depdikbud, 1994: 74). Jadi pemahaman adalah suatu proses, cara memahami cara mempelajari baik-baik supaya paham dan pengetahuan banyak.
2. Kerangka Berpikir
Kondisi Awal
• Pembelajaran masih konvensional
• Pembelajaran berpusat pada guru
• Siswa kurang memahami materi yang dipelajari
• Siswa kurang aktif dan antusias dalam mengikuti pembelajaran
• Menggunakan model pembelajaran konstruktivisme
• Siswa diajak untuk mengembangkan pemahaman yang mereka miliki tentang sistem pernafasan
Kondisi Akhir
• Pembelajaran lebih aktif dan menyenangkan
• Siswa bisa mengembangkan pemahaman dan pengetahuannya tentang sistem pernafasan
• Siswa memiliki pengalaman bermakna setelah mengikuti pembelajaran
Sebelum dilaksanakan pembelajaran bermodel konstruktivisme, sistem pembelajaran masih menggunakan model konvensional, yaitu berceramah. Guru tidak memperhatikan pemahaman awal peserta didik tentang materi yang akan dipelajari. Hal ini berakibat siswa kurang antusias dan aktif dalam mengikuti pembelajaran, sehingga siswa tidak memahami materi, dan pada akhirnya tujuan pembelajaran tidak tercapai.
Dengan pembelajaran konstruktivisme siswa harus menemukan dan mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain dan informasi itu manjadi milik mereka sendiri. Dengan dasar ini pembelajaran dikemas menjadi proses mengkonstruksi bukan menerima pengetahuan.
Proses pembelajaran IPA lebih menekankan pada pembentukan keterampilan memperoleh pengetahuan yaitu daya fikir dan daya kreasi. Sementara daya pikir kreasi sebagai indikator dari perkembangan kognitif itu sendiri bukan merupakan akumulasi kepentingan perubahan perilaku terpisah melainkan merupakan pembentukan oleh anak, suatu kerangka teori belajar terhadap usaha seseorang dalam mengkonstruksi pengetahuan.
Sehingga dengan diterapkannya pembelajaran konstruktivisme dalam pembelajaran IPA, siswa akan lebih aktif dalam pembelajaran dan memahami penjelasan guru sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
3. Hipotesis
Dari hasil analisis tindakan, penulis membuat hopotesis bahwa, jika guru menggunakan model pembelajaran konstruktivisme dan siswa melakukan percobaan membuat model sistem pernafasan maka siswa akan berperan aktif dalam pembelajaran sehingga pemahaman siswa tentang sistem pernafasan akan meningkat

H. Rencana dan Prosedur Penelitian
1. Rencana Penelitian
a. Subjek penelitian
Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SD Muhammadiyah Banjaran sejumlah 9 siswa. Pertimbangan penulis mengambil subyek penilitian tersebut karena penulis mengajar di sana.
b. Tempat Penelitian
Dalam penelitian ini penulis mengambil lokasi di kelas V SD Muhammadiyah Banjaran, karena bekerja pada sekolah tersebut, sehingga mudah dalam mencari data, peluang waktu yang luas dan subyek penelitian yang sangat sesuai dengan profesi penulis.
c. Waktu Penelitian
Waktu penelitian selama 3 bulan November s.d Januari, pada semester I Tahun pelajaran 2011/2012.
d. Lama Tindakan
Waktu untuk melaksanakan tindakan pada bulan November, mulai dari siklus I sampai Siklus II .
2. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian yang diterapkan dalam hal ini antara lain :
a. Perencanaan
Meliputi pembuatan rencana perbaikan permbelajaran, urutan prosedur pembelajaran, penyampaian materi pelajaran, evaluasi.
b. Tindakan (Action )/ Kegiatan, mencakup
a. Siklus I meliputi : Pendahuluan, kegiatan pokok dan penutup.
b. Siklus II ( sama dengan I)
c. Refleksi, dimana perlu adanya pembahasan antara siklus-siklus tersebut untuk dapat menentukan kesimpulan atau hasil dari penelitian.
Prosedur yang dilaksanakan dalam penelitian tindakan kelas ini berbentuk siklus yang akan berlangsung lebih dari satu siklus bergantung dari tingkat keberhasilan dari target yang akan dicapai, dimana setiap siklus bisa terdiri dari satu atau lebih pertemuan. Adapun prosedur penelitian yang dipilih yaitu dengan menggunakan model spiral dari Kemmis dan Mc Taggart (1998). Siklus model Kemmis dan Mc Taggart ini dilakukan secara berulang dan berkelanjutan, seperti siklus di bawah ini :
Gambar 1. Model Penelitian Tindakan Kelas Kemmis & Mc Taggart (Suharsimi Arikunto, 2006 : 97) 17

Langkah-langkah pada modul siklus Kemmis dan Taggart di atas yaitu sebagai berikut :
a. Perencanaan tindakan
Tahap ini mencakup semua perencanaan tindakan seperti pembuatan rencana pelaksanaan pembelajaran yang dialami, menyiapkan metode alat dan sumber pembelajaran serta merencanakan pula langkah dan tindakan yang akan dilakukan untuk menguji hipotesis.
Dalam tahap ini penulis menetapkan seluruh rencana tindakan yang akan dilakukan untuk memperbaiki praktek pembelajaran mengenai energi gerak, yaitu dengan menerapkan pembelajaran konstruktivisme, adapun langkah-langkah perencanaannya yaitu :
1) Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran.
2) Merumuskan langkah dan tindakan yang akan dilakukan untuk menguji hipotesis.
3) Memilih prosedur evaluasi penelitian.
4) Melaksanakan tindakan.
b. Pelaksanaan Tindakan
Tahap ini langkah dan tindakan pembelajaran mengacu pada perencanaan yang telah dibuat dalam Kegiatan Inti sesuai RPP Perbaikan, mulai dari tahap awal pembelajaran hingga tahap akhir pembelajaran
c. Observasi
Tahap ini terdiri dari pengumpulan data, pencatatan aktivitas siswa dan guru pada tindakan selama proses pembelajaran dengan mengacu lembar observasi. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah aktivitas siswa dan kinerja guru sudah sesuai dengan apa yang tercantum dalam lembar observasi atau tidak, sebagai bahan perbaikan siklus berikutnya.
d. Refleksi
Refleksi merupakan pengkajian hasil data yang telah diperoleh saat observasi dan berguna untuk memberikan makna terhadap proses dan hasil (perubahan) yang telah dilakukan. Hasil refleksi yang ada dijadikan bahan pertimbangan untuk membuat perencanaan tindakan dalam siklus selanjutnya yang berkelanjutan sampai pembelajaran dinyatakan berhasil.
Peneliti akan melakukan refleksi di akhir pembelajaran dengan merenungkan kembali secara intensif kejadian atau peristiwa yang menyebabkan sesuatu yang diharapkan atau tidak diharapkan. Refleksi merupakan bagian yang sangat penting untuk memahami dan memberikan makna terhadap proses dan hasil pembelajaran yang terjadi yang dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1) Mengecek kelengkapan data dan pengumpulan data yang terjaring selama proses tindakan.
2) Mendiskusikan dan pengumpulan data antara guru, peneliti dan kepala sekolah (pembimbing) berupa hasil nilai siswa, hasil pengamatan, catatan lapangan, dan lain-lain.
3) Penyusunan rencana tindakan berikutnya yang dirumuskan dalam skenario pembelajaran dengan berdasar pada analisa data dari proses dalam tindakan sebelumnya untuk memperbaiki proses pembelajaran yang telah dilakukan pada siklus I untuk menyusun tindakan yang akan dilakukan pada siklus II.
3. Instrumen Penelitian
a. Pedoman Observasi
Pedoman observasi yang dilakukan peneliti, untuk mengamati seluruh kegiatan baik dari kinerja guru maupun aktivitas siswa, mulai awal pembelajaran sampai akhir pembelajaran IPA tentang sistem pernafasan. Tujuan tindakan observasi adalah untuk memperoleh data perilaku siswa sehingga didapatkan hasil perubahan perilaku siswa dalam memperbaiki pembelajaran (format observasi terlampir).
b. Pedoman Wawancara
Wawancara adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi. Yang diwawancarai oleh peneliti adalah siswa. Pedoman wawancara ini bisa mengenai pembelajaran yang telah dilaksanakan. Tujuan diadakannya wawancara adalah untuk memperoleh data verbal atau konfirmasi dari siswa dan guru mengenai penyebab kesulitan siswa dalam memahami sistem pernafasan di kelas IV SD Muhammadiyah Banjaran (format wawancara terlampir).
c. Tes
Tes adalah serentatan pertanyaan atau latihan yang digunakan untuk mengukur kemampuan siswa. Tes yang digunakan peneliti untuk mengetahui kemampuan siswa dalam memahami energi gerak. Tes yang dilakukan dalam penelitian ini ada dua yaitu tes tertulis dan tes unjuk kerja. Tes tertulis bertujuan untuk mengetahui peningkatan pemahaman siswa mengenai gerak berupa soal-soal yang harus dijawab. Tes yang kedua yaitu tes unjuk kerja yang bertujuan untuk mengatahui kemampuan siswa dalam memahami energi gerak yaitu berupa pedoman penilaian unjuk kerja.
4. Data dan Sumber Data
Data dalam penelitian ini diperoleh dari hasil observasi, wawancara dan tes yang dilakukan terhadap siswa kelas V SD Muhammadiyah Banjaran berkaitan dengan pemahaman siswa mengenai sistem pernafasan.
Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SD Muhammadiyah Banjaran dan guru sebagai mitra peneliti serta seluruh komponen sekolah.
5. Validasi Data
Validasi data yang dipilih peneliti dalam penelitian ini merujuk pada pendapat Hopkins (dalam Wiraatmadja, 2005 : 168-171), yaitu :
a. Member chek, memeriksa kembali keterangan atau informasi yang diperoleh selama observasi atau wawancara dilakukan dengan cara mengkonfirmasi dengan guru dan siswa melalui diskusi pada akhir pembelajaran.
b. Audit Trail, yaitu mengecek kebenaran prosedur dan metode pengumpulan data dengan cara mendiskusikan dengan rekan sejawat atau tutor.
c. Expert Opinion, pengecekan terakhir terhadap kesahihan temuan peneliti kepada pakar profesional, dalam hal ini penulis mengkonfirmasikan temuan kepada pembimbing atau dosen.
Berdasarkan validasi diatas, maka validasi data yang akan digunakan oleh peneliti yaitu member chek, triangulasi dan Audit Trail. Untuk validasi member chek, setelah wawancara dengan siswa serta observasi terhadap kinerja guru dan aktivitas siswa dalam pembelajaran IPA. Peneliti memeriksa hasil wawancara dan obsevasi, apakah sudah tercatat sesuai yang terjadi atau ada yang belum tercatat.
Dalam melakukan audit trail dan expert opinion, setelah observasi dan wawancara terhadap kinerja diri guru dan aktivitas siswa peneliti akan membandingkan serta mendiskusikan hasil observasi tersebut dengan rekan sejawat atau tutor.

I. Jadwal Penelitian
No KEGIATAN Oktober November Desember
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5
1 Perencanaan
2 Penyusunan Proposal
3 Perbaikan Proposal
4 Siklus I
5 Siklus II
6 Pengolahan Data
7 Penyusunan Laporan
8 Perbaikan Laporan
9 Pengesahan

J. Daftar Pustaka

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka Cipta.
Depdiknas, 2002, Pendekatan Kontekstual, Jakarta, Dirjen Penidikan Dasar dan Menengah
Kartini. 2007. Model-model Pembelajaran (Modul). STAIN Cirebon.
Moh. Surya. 1997. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung PPB - IKIP Bandung
Wiriaatmadja, Rochiati. 2006. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung : Remaja Rosdakarya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar